Mengapa Fotografi ?

Sering setiap kali saya merenungkan makna dan pengaruh pekerjaan terhadap pembentukan kepribadian jelas sekali adanya. Rutinitas pekerjaan yang berhubungan dengan berbagai macam orang beserta sifat sifatnya yang unik dan kadang menyebalkan, banyaknya aturan aturan baik tertulis maupun yang tidak tertulis yang harus dijalankan, keterikatan pada komitmen ketepatan serta kecepatan waktu yg semakin menuntut, dan masih banyak lagi hubungan interaksi antar manusia dengan berbagai kompleksitasnya, itu membuat saya merasakan pikiran seperti  terbelenggu.

Saya harus mencari sesuatu kegiatan, di mana saya bisa membebaskan ruang gerak dan pikiran dari beban yang selama ini menimpa baik fisik maupun pikiran yang diperoleh dari lingkungan kerja selama hampir 30 tahun.

Andree, seorang karyawan baru yang ditempatkan di unit kerja saya, ia memiliki kamera digital prosumer. Setiap kesempatan ia membidikan kameranya kemana ia menginginkannya. Pada saat senggang saya bertukar pengalaman tentang fotografi. Saya punya pengalaman memotret waktu kamera masih analog, warisan dari ayah, merek Canon QL dan kemudian ganti Canon Ftb. Tapi pada tahun delapan puluhan stop, karena uang bulanan diprioritaskan untuk biaya sehari hari dan kuliah.

Awalnya saya berfikir, camera digital itu repot. Tetapi setelah saya perhatikan, ternyata tidak serepot dan sesulit yang saya bayangkan. Malah menurut saya juga murah, dibanding dengan camera analog.  Dari sinilah kemudian saya berfikir untuk memanfaatkan fotografi sebagai pengisi waktu sekaligus hoby pada saat pensiun di kemudian hari.

Fotografi membebaskan !10298707_10203054829186204_9104990114631724027_n